Menulislah Untuk Keabadian (Pram)

esse es percipi

Foto saya
Padang, Sumatera Barat, Indonesia
not a girl,not a woman yet....
Tampilkan postingan dengan label Posting Singgalang Minggu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Posting Singgalang Minggu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 November 2008

Film Indonesia, Remaja Yang Mana?

Suka nonton TV? Suka liat sinetron / film yang dikategorikan film remaja? Masihkan bisa kita definisikan remaja itu yang mana? Film atau sinetron remaja yang most of bertemakan cinta?
Awalnya remaja yang dimaksud adalah mereka yang menggunakan seragam putih abu-abu. Mereka yang duduk dibangku SMA yang berusia sekitar 14 - 18 tahun. Mereka yang memerankan berbagai adegan yang mencerminkan kehidupan remaja. Sekolah ala remaja, hubungan sosial dalam kehidupan remaja, dll yang identik dengan remaja.
Beranjak sedikit waktu, mereka yang berseragam putih biru tak mau kalah memerankan kisah-kisah yang kerap dihadapi remaja. Mereka yang berusia sekitar 10 -14 tahun dan duduk dibangku SLTP. Oke, mereka akan menuju kehidupan remaja. Katakanlah mereka pra remaja.
Surprise!!Merah putih unjuk gigi. Mereka yang berseragam kan lambang bendera negara kita ini tak mau kalah memerankan adegan yang seharusnya mencerminkan kehidupan remaja.
Atau mereka kah yang disebut remaja saat ini? lalu dua genre seragam diatas mereka disebut apa?
Apakah ini salah satu tanda-tanda evolusi makhluk hidup atau revolusi jati diri remaja?

Peran LSF

Dalam Singgalang edisi Minggu, 29 Juli 2007, dijelaskan lebih kurang sbb:
Lembaga Sensor Film (LSF) adalah garda budaya bangsa dengan visi terwujudnya masyarakat Indonesia yang memilki daya saring info untuk pertahanan tata nilai dan budaya bangsa. Sedangakan misi LSF adalah melindungi masyarakat dari dampak negatif yang mungkin ditimbulkan oleh peredaran film....dst.
Selanjutnya disebutkan pula bahwa penyensoran film menyangkut beberapa segi diantaranya agama, ideologi, politik, sosial budaya, dan ketertiban umum.
Berarti jelas bahwa, tidak hanya adegan, LSF sebagai lembaga swasensor, tidak berhakkah memberi sensor terhadap individu yang akan membintangi film atau sinetron? Tentu saja berhak.
Namun pernyataan lain mengatakan bahwa LSF merasa dirinya tidak berdaya dan tidak memilki wewenang untuk menindak kecuali hanya memberi himbauan dan mengingatkan bagi yang melanggar. Tak cukup melanggarkah ini?
Penulis harap LSF tidak terus-terusan menyerahkan hal ini kepada aparat hukum dan Undang-undanag. Dalam keadaan sekarang,sudah terlalu banyak tugas aparat hukum. Akankah ditambah hanya dengan menyensor film yang layak tayang?
Penulis harap LSF berani tegas terhadap fungsinya sebagai Lembaga Sensor dan berhenti menganggap dirinya tidak berwenang atau melempar tanggung jawab nya kepada aparat yang dianggap berwenang jika tak ingin mereka yang belum menggunakan serafgan sekalipun ( balita) ikut-ikutan membintangi film atau sinetron yang seharusnya mereka mainkan 6 atau 7 lagi. Semoga!

Pasca Pengumuman SPMB

Tidak lulus SPMB bukanlah akhir dunia, karena lulus SPMB sekalipun bisa jadi adalah neraka

Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) digelar 4-5 Juli 2007, sebagai salah satu pintu penerimaan mahasiswa baru untuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Mulai dari tanggal 3 Agustus 2007 hasil SPMB telah dapat diakses baik di Internet maupun di media massa .
Selamat bagi mereka ynag lulus SPMB. Berhasil menduduki salah satu bangku PTN melalui SPMB adalah sebuah prestasi tersendiri, Bagaimana tidak? Satu orang yang berhasil menyingkirkan puluhan peserta lain untuk jurasan yang sama-sama mereka pilih, bukanlah pekerjaan mudah.
Beberapa hal yang kerap dikaitkan dengan lulus SPMB adalah usaha, strategi dan keberuntungan. Jumlah soal SPMB yang terdiri dari masing-masing 25 soal untuk Kemampuan Dasar (KD) yang terdiri dari soal Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Matematika. Sistem penilaian plus 4 untuk soal dengan jawaban benar dan minus satu untuk jawaban salah, juga sangat mempengaruhi. Strategi menjawab banyak soal benar pada KD akan sangat membantu jika nantinya peserta kurang mampu menjawab soal kemampuan IPA/IPS.
Rajin membahas soal adalah kuncinya. Mereka yang menyadari hal ini akan rajin membahas soal baik prediksi maupun soal-soal tahun sebelumnya. Disinilah factor usaha sangat berperan bagi mereka yang lulus SPMB benar-benar karena usaha mereka. Mereka yang menjawab cukup banyak benar pada soal KD dan beberapa soal untuk kemampuan IPA/IPS. Selain itu strategi untuk sekian passing grade ( point yang harus dipenuhi ) harus menjawab benar sekian soal KD dan sekian soal kemampuan IPA/IPS juga mereka pertimbangkan.
Keberuntungan akan terjadi pada mereka tidak terlalu memikirkan strategi , menjawab semua soal yang mereka anggap benar temasuk soal ragu, dan hanya meninggalkan soal yang mereka benar-benar tidak tahu karena belum pernah menemukan materi tersebut sebelumnya. Tidak terpikirkan resiko minus 1 untuk soal yang mereka jawab salah, akan sangat mempengaruhi plus 4 untuk jawaban mereka yang benar.. Jumlah peminat kursi yang mereka perebutkan pun menjadi factor pendukung keberuntungan. Memilih jurusan dengan peminat sedikit pada PTN yang tidak cukup favorit, alhasil inilah mereka yang ‘ beruntung’ lulus SPMB.
Sedangkan beberapa hal dibalik tidak lulus SPMB adalah not well prepare ( kurang persiapan), kurang strategi, kesalahan teknis dan mental.
Kurang membahas soal-soal tahun sebelumnya adalah factor yang sangat mempengaruhi tidak lulusnya peserta SPMB. Karena soal yang dimunculkan pada SPMB setiap tahunnya, sebagian besar adalah pengulangan soal yang pernah keluar pada SPMB sebelumnya, termasuk Sipenmaru dan UMPTN.
Kurang atensi diri termasuk kurangnya strategi adalah faktor kedua. Kurang mengukur kemampuan , minat dan bakat diri sendiri juga mempengaruhi untuk tidak lolos seleksi. Untuk kemampuan seorang sastrawan memaksakan diri memasuki Fakultas Kedokteran adalah kesalahan fatal.
Kesalahan teknis, tidak terbacanya lembar jawaban ABO, kesalahan pengisian kode, dll tidak jarang juga menjadi alasan tidak lolosnya peserta SPMB. Mental yang tidak siap untuk mengahadapi ‘dua hari yang menentukan’, juga menjadi factor kegagalan. Datang terlambat saat ujian, mengetahui bahwa ia meinta jawaban pada peserta yang berbeda kode, ditegur pengawas,dll dapat mengganggu kesiapan mental dalam menjawab soal dengan baik.
Selain itu rating soal SPMB yang berbeda dari soal UN/ UAS dan tidak jarang keluar dari kurikulum yang ditetapkan, menambah deretan factor gagalnya peserta SPMB menembus PTN.
------
Tidak lulus SPMB bukanlah akhir dunia karena lulus SPMB sekalipun bisa jadi adalah neraka. There is no perfect job.
Segelintir kisah dari beberapa sahabat. Beberapa sahabat penulis yang yang berhasil menembus Fakultas Kedokteran melalui SPMB masing-masing adalah juara umum sekaligus Pemenang I dan Pemenang II olimpiade Matematika tingkat Kota 2004, Finalis Lomba Biologi tingkat SMA se Sumatera Barat sekaligus pemenang I olimpiade Biologi tingkat Kota 2004 dan beberapa sahabat lain dengan prestasi setara The right person at the right place. Mereka yang lulus pada pilihan yang dianggap jurusan terfavorit sepanjang masa. Mereka lulus sesuai dengan prestasi minat, bakat kemampuan dan usaha mereka Namun tidak semulus jalan mereka menembus SPMB para pemenang olimpiade sekalipun tetap berkerut ketika menghadapi bahan ujian setebal 5 cm untuk 1 blok( 1blok = 6 minggu ).Belum lagi biaya keperluan kuliah mulai dari peralatan kedokteran sampai buku yang tak jarang bernilai jutaan rupiah.
Sahabat lain yang berhasil menembus SPMB adalah seorang sahabat yang tergolong ‘sedang’ semasa SMA. Tidak pernah terlalu menonjol dengan prestasi apapun walaupun juga tidak pernah mendapat nilai merah untuk raportnya. Ia berhasil mendapatkan sebuah kursi di Universitas terfavorit di Indonesia , Universitas Indonesia , dijurusan yang cukup favorit. Lain lagi dengan seorang sahabat yang lulus SPMB pada pilihan pertamanya di PT yang diinginkannya. Teknik Elektro Universitas Andalas. Namun kenyataan Colour Blind ( buta warna ) yang baru diketahuinya saat pendaftaran ulang membuat lulus SPMB menjadi tak berarti apa-apa untuknya. Usaha yang dilakukannya mati-matian adalah sia-sia baginya
Tidak lulus SPMB bukanlah akhir dunia. Tidak lulus SPMB tidak sama dengan bodoh. Tidak sedikit teman-teman yang berprestasi sangat cemerlang di SMU tidak berhasil menduduki kursi yang diinginkannya.
Namun sekali lagi tidak lulus SPMB bukanlah akhir segalanya.
Seorang sahabat lain yang tidak berhasil lulus SPMB untuk semua pilihannya padahal rata-rata nilai raport yang didapatkannya selalu berada diatas standard. Kecewa memang melihat teman-teman lain yang lulus, yang mungkin memiliki rata-rata nilai dibawahnya. Namun keputusannya menimba ilmu di salah satu Akademi Keperawatan, menghantarkannya menjadi mahasiswa dengan IP tertinggi diangkatannya dan menjadi symbol penerimaan kap pada saat pengambilan sumpah.
Tidak lulus SPMB juga menghantarkan beberapa sahabat lain menjadi akademisi diberbagai bidang seperti kepolisian. Berbagai Sekolah Tinggi berikatan dinas seperti Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS), Sekolah Tinggi Tansportasi Darat (STTD), Institut Pendidikan Dalam Negeri (IPDN) dll turut menghantarkan beberapa sahabat lain yang tidak lulus SPMB menuju cita-cita mereka dengan jalan yang lebih konkrit dan jelas.
Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang berkualitas dengan biaya yang tidak lagi mencekik juga telah banyak tersedia untuk melanjutkan cita-cita mereka yang terhambat oleh tidak lulusnya SPMB.
SPMB hanya salah satu jalan menuju kesuksesan dan cita-cita masa depan. Dimanapun kita berada sekarang, lulus atau tidak lulus SPMB, pada pilihan 1,2 atau ke 3, PTS, akademi,dll, percayalah ini yang terbaik yang diberikan Yang Maha Kuasa kepada kita. Tidak ada jurusan yang tidak bagus. Tergantung yang menjalaninya. Setelah usaha dan doa keras yang kita lakukan sebelumnya, inilah yang terbaik untuk kita. Sekalipun tidak sesuai dengan keinginan kita. Karena keinginan kita sekalipun belum tentu yang terbaik untuk kita.
Just do the best! Kini cukup lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan dengan yang ada pada kita sekarang. Tidak sedikit komentar puas setelah beberapa lama menjalaninya. Sedikit penyesuaian akan membuat kita kembali nyaman dengan pilhan ini. Semoga!

Jumat, 07 November 2008

Menjadi Remaja Profesional ?!


Perlukah profesionalitas menjadi seorang remaja?Yap! Tentu saja, karena apapun, siapapun orangnya, dimanapun berada butuh keahlian dan kelihaian. Begitu juga dengan remaja. Musti ahli dan lihai. Ahli dalam menempatkan diri dan lihai dalam melakukan sesuatu. Teutama dalam bergaul, berfikir, dan menjalin hubungan dengan orang lain atau pasangan. Ahli bergaul bukan berarti ikut dan mengikuti seluruh trend yang ada.
Lalu apakah mejadi remaja profesional yang dimaksud adalah tau semua trend remaja terbaru, seperti mode terbaru, musik dan grup band teranyar, pintar disekolah, punya pacar keren dan incaran banyak orang, tajir dan lain hal yang membuat remaja lainnya iri ? What a perfect life??
Bukan! Bukan itu yang diminta untuk menjadi remaja profesional. Cukup sederhana. Just do the right act at the right place on the right time.
Seorang remaja yang sebenarnya berprestasi bagus dibidang akademik, menjadi terganggu nilai atau IP nya karena bermasalah dengan " si dia" adalah bukan sikap remaja profesional. Pun, bermesraan, berpegangan tangan,berbisikan ditempat umum yang ramai seperti diatas angkutan umum juga bukan cerminan remaja yang profesional.
Kemana-kemana berdua sampai-sampai meninggalkan teman-teman yang ada sebelum bertemu "dia" juga tidak bisa disebut remaja yang profesional. Apalagi mengumbar semua yang terjadi antara kalian keorang-orang disekitar, lebih mementingkan "dia" ketimbang sahabat-sahabat atau keluarga, jangan sampai! Mungkin ini memang hal-hal kecil. Namun sangat krusial dalam menciptakan pandangan masyarakat terhadap remaja. Tak asing lagikan melihat para orang dewasa dan para orang tua yang memandang sebelah mata pada remaja sekarang?
Menjadi remaja profesional harus bisa membedakan kepentingan hati dan kepentingan diri. Profesional memisahkan urusan logika dan urusan perasaan. Jadi, walau ada masalah dengan "sidia" nilai akademik dan sosialisasi tidak boleh terganggu. Itu baru remaja yang profesional!
Inilah yang jarang ditemui dalam diri-diri remaja sekarang. Kebanyakan remaja cenderung mendahulukan kepentingan hati dan perasaan sehingga mengabaikan kepentingan diri dan logika yang sebenarnya, jauh lebih penting.
Salam salut untuk teman-teman remaja yang sanggup menjadi remaja yang profesional. Tidak meninggalkan teman-teman, keluarga , kepentingan akademik demi "dia" yang belum tentu jadi apa-apa!
so lets do the right act! Mari lihat waktu dan tempat. Pertimbangkan kepantasan. Dan remaja tidak lagi dipandang sebelah mata. Semoga!

Eksistensi Ambisi, antara Kemauan dan Emosi


Teringat ketika meminum secangkir kopi, satu sendok kopi dicampur dengan beberapa sendok gula, sesuai selera. Kemudian diseduh dengan air hangat, lalu di aduk dan siap diseruput.
Layaknya meminum secangkir kopi, ambisi adalah perpaduan antara gula dan kopi dalam cangkir yang diseduh dengan air hangat. Antara kemauan dan emosi. Kemauan ibarat gula dan emosi kopinya. Kemauan melakukan sesuatu untuk mencapai sesuatu. Kemauan untuk berhasil, kemauan untuk bersaing. Kemauan-kemauan yang ada dalam diri individu yang berada dalam masa peralihan antara anak-anak dan dewasa untuk menunjukkan eksistensinya, sebagai remaja. Belum optimalnya pemikiran remaja menimbulkan emosi yang kerap berbaur dengan kemauan. Inilah kopi untuk beberapa sendok gula. Nah, disinilah ambisi muncul sebagai eksistensi kemauan dan emosi dalam diri remaja.
Yang sering terjadi dan menimbulkan masalah adalah kalahnya kadar kemauan oleh emosi pada diri yang sedang dalam masa peralihan ini. Takaran gula yang dikalahkan oleh takaran kopi yang dalam cangkir, menimbulkan ambisi yang tidak terkendali.
Terkendalinya ambisi remaja tergantung pada niat remaja itu sendiri, dan tentu saja lingkungannya. Jika seseorang memang berniat untuk mencapai sesuatu, prestasi dikampus misalnya, maka ambisinya adalah bagaimana mencapai indeks prestasi yang sempurna. Segala hal dilakukan demi mencapai niat tersebut.Belajar optimal, mengerjakan semua tugas, dengan kata lain, study oriented.Remaja dengan ambisi ini tak jarang meninggalkan hal lain yang mungkin akan sangat berharga baginya. Tak jarang kemauan-kemauan lain tak terindahkan akibat inginnya ambisi tadi muncul kepermukaan. Hal-hal yang tidak terindahkan itu misalnya kepentingan sosial, persahabatan, kegiatan ekstra di kampus dan lain-lain. Disinilah terlihat takaran kopi yang berlebihan. Nah, disinipulalah gula sebagai eksistensi dari kemauan seharusnya berperan. Kemauan untuk tetap memiliki sahabat, kemauan untuk tetap besosialisasi, kemauan untuk tetap bergabung dengan berbagai kegiatan ekstra kampus. Namun tidak meninggalkan orientasi studi awalnya.
Sedangkan lingkungan, bagaimana lingkungan mempengaruhi ambisi seseorang?
Tentu saja dengan ambisi pula. Jika lingkungan disekitar adalah lingkungan dengan penuh ambisi, maka berambisi pulalah remaja itu, namun jika lingkungannya adem ayem tanpa persaingan ambisi yang ketat, maka tak bernafsu pula ia untuk memiliki ambisi.
Apapun faktor penyebabnya ambisi tetaplah ibarat kopi dalam cangkir. Tanpa ambisi, gula dan air hangat tidak cukup menggugah selera. Untuk menimbulkan selera dan aroma yang menggoda, takaran ambisi haruslah tepat. Pertimbangkan kemauan. Kemauan untuk menjaga ambisi agar tak terlalu mendominasi.
Hanya mereka yang bisa menakar gula dalam kopi dalam keadaan pas lah yang bisa menikmati kopi dengan nikmat. Ingat tak semua orang suka kopi pahit
Eksistensi Ambisi, antara Kemauan dan Emosi
Teringat ketika meminum secangkir kopi, satu sendok kopi dicampur dengan beberapa sendok gula, sesuai selera. Kemudian diseduh dengan air hangat, lalu di aduk dan siap diseruput.
Layaknya meminum secangkir kopi, ambisi adalah perpaduan antara gula dan kopi dalam cangkir yang diseduh dengan air hangat. Antara kemauan dan emosi. Kemauan ibarat gula dan emosi kopinya. Kemauan melakukan sesuatu untuk mencapai sesuatu. Kemauan untuk berhasil, kemauan untuk bersaing. Kemauan-kemauan yang ada dalam diri individu yang berada dalam masa peralihan antara anak-anak dan dewasa untuk menunjukkan eksistensinya, sebagai remaja. Belum optimalnya pemikiran remaja menimbulkan emosi yang kerap berbaur dengan kemauan. Inilah kopi untuk beberapa sendok gula. Nah, disinilah ambisi muncul sebagai eksistensi kemauan dan emosi dalam diri remaja.
Yang sering terjadi dan menimbulkan masalah adalah kalahnya kadar kemauan oleh emosi pada diri yang sedang dalam masa peralihan ini. Takaran gula yang dikalahkan oleh takaran kopi yang dalam cangkir, menimbulkan ambisi yang tidak terkendali.
Terkendalinya ambisi remaja tergantung pada niat remaja itu sendiri, dan tentu saja lingkungannya. Jika seseorang memang berniat untuk mencapai sesuatu, prestasi dikampus misalnya, maka ambisinya adalah bagaimana mencapai indeks prestasi yang sempurna. Segala hal dilakukan demi mencapai niat tersebut.Belajar optimal, mengerjakan semua tugas, dengan kata lain, study oriented.Remaja dengan ambisi ini tak jarang meninggalkan hal lain yang mungkin akan sangat berharga baginya. Tak jarang kemauan-kemauan lain tak terindahkan akibat inginnya ambisi tadi muncul kepermukaan. Hal-hal yang tidak terindahkan itu misalnya kepentingan sosial, persahabatan, kegiatan ekstra di kampus dan lain-lain. Disinilah terlihat takaran kopi yang berlebihan. Nah, disinipulalah gula sebagai eksistensi dari kemauan seharusnya berperan. Kemauan untuk tetap memiliki sahabat, kemauan untuk tetap besosialisasi, kemauan untuk tetap bergabung dengan berbagai kegiatan ekstra kampus. Namun tidak meninggalkan orientasi studi awalnya.
Sedangkan lingkungan, bagaimana lingkungan mempengaruhi ambisi seseorang?
Tentu saja dengan ambisi pula. Jika lingkungan disekitar adalah lingkungan dengan penuh ambisi, maka berambisi pulalah remaja itu, namun jika lingkungannya adem ayem tanpa persaingan ambisi yang ketat, maka tak bernafsu pula ia untuk memiliki ambisi.
Apapun faktor penyebabnya ambisi tetaplah ibarat kopi dalam cangkir. Tanpa ambisi, gula dan air hangat tidak cukup menggugah selera. Untuk menimbulkan selera dan aroma yang menggoda, takaran ambisi haruslah tepat. Pertimbangkan kemauan. Kemauan untuk menjaga ambisi agar tak terlalu mendominasi.
Hanya mereka yang bisa menakar gula dalam kopi dalam keadaan pas lah yang bisa menikmati kopi dengan nikmat. Ingat tak semua orang suka kopi pahit.

Kampus

Tulisan sebagai Ruang Komunikasi

Sayyid Madani Syani dalam tulisannya “Melihat Indonesia dengan Hati” (Singgalang 23/3 ) memaparkan bahwa sastrawan atau penulis ‘menggarap’ untuk beberapa tujuan, diantaranya sebagai semangat murni perjuangan kaum miskin, menambah financial pribadi, bersabar dengan konsep kebenaran, bersandar dengan konsep tertentu, atau malah tidak berdasarkan apapun. Tak ada salahnya jika menambahnya dengan satu daftar lagi yaitu membentuk sebuah ruang komunikasi dengan penulis lain baik sebagai kritik atau sekedar apresiasi.

Misalnya dalam tulisan Esha Tegar Putra dalam “Adakah standar untuk Apresiasi sastra”, Esha mengkritik sekaligus mengapresiasi tulisan Fadli Akbar dalam “Teori sastra; Perkakas Analisis dan standar apresiasi” (Singgalang 9/3). Terlihat apresiasi Esha dalam persetujuannya akan kedangakalan apresiasi sastra karena ketidakpeduliannya penggiat sastra akan teori sastra. Lalu pandangan berbeda Esha untuk opini Fadli bahwa dalam masalah standar apresiasi sastra. Adakah? Menurutnya tak bisa ditentukan standar kulaitas dari sebuah penulis baik itu kritik maupun apresiasi sastra.

Terlepas dari itu semua, satu hal menarik yang tampak. Bahwa Esha dan Fadli telah menumbuhkan ruang komunikasi dua pemikiran mahasiswa tentang sastra. Jika melihat latar belakang pendidikan yang tengah mereka jalani mungkin fakta ini akan sangat menarik lagi. Disini, terlihat opini dua arah. Walau terkesan hanya apresiasi sederhana tapi bisa saja banyak pemaknaan lain dari terciptanya ruang komunikasi dari tulisan-tulisan ini.

Dunia mahasiswa kini yang ibarat menara gading di gedung sendiri, telah memangkas waktu dan kesempatan diskusi baik secara langsung maupun tidak. Jarang sekali dijumpai segerombolan mahasiswa yang masih mempunyai waktu untuk duduk bersama dan berdiskusi. Mengenai apa saja. Cyber culture agaknya menjadi salah satu penyebab fenomena ini.

Pembentukan ruang komunikasi seperti yang dilakukan Fadli dan Esha akan sah jika, pertama, para penulis mau saling membuka pikiran (open mind). Seorang penulis tentu saja menulis apa yang dianggapnya benar.Dan menganggap apa yang ditulisnya adalah benar.Apalagi ketika sebuah tulisan dimuat. Kasus seperti Esha-Fadli menumbuhkan pemikiran lain. Fadli, dalam hal ini mungkin memang akan berpikir mengenai adanya standar untuk apresiasi sastra seperti yang selama ini dipikirkannya. Bisa jadi nantinya ia menerima pemikiran tersebut, atau menolaknya dengan memberikan analogi-analogi lain yang mungkin malah akan membuat Esha membuka lagi pikirannya, atau sebaliknya.

Kedua, adanya kepedulian terhadap apresiasi sebuah tulisan. Kepedulian bahwa sebuah tulisan, setelah dipublikasi karya tersebut tak hanya sampai disana. Tak hanya sampai pada sebuah senyuman jika apresiasi tersebut dapat diterima atau sebuah kerutan kening karena tidak terima. Tidak kepedulian lebih lanjut yang terlihat.

Ketiga, kritik membangun yang sportif, terbuka, beralasan, logis dan toleran. Terakhir pembentukan komunitas itu sendiri. Sebuah wadah “perang pemikiran melalui tulisan” yang nantinya dapat diteruskan menjadi sebuah wadah diskusi sebenarnya mengenai apa yang dibicarakan. Ssetelahnya, dapat dibayangkan generasi berikut yang lebih terbuka kecerdasannya karena telah ‘diadu’ dengan kecerdasan lainnya.

Ingat cerita “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”? Semuanya berawal dari tulisan. Sebuah pemikiran yang disatukan melalui pemikiran. Dan hasilnya??